Cerpen Tentang Banjir



                                                           Antara Banjir dan Sekolah
                                                           Oleh : Hengki Kurniawan 

    Hari masi mendung pasca hujan seharian. Hujan masih turun rintik-rintik. Tanah masih basah dan genangan air dimana-mana. Sepertinya sekarang memang sedang musim hujan. Badan Meteorologi dan Klimatologi melaporkan bahwa Kota Batam saat ini akan dilanda hujan selama sepekan ke depan. Akumulasi curah hujan saat ini sesuai dengan iklim tropis yang ada di negara Indonesia. Pagi itu kebetulan hujan sedikit reda saya langsung bergegas beranjak kesekolah siap memberikan pelajaran sebagai guru mata pelajaran Bahasa Indonesia. 

 "Selamat pagi pak!" 

    Sapa beberapa siswa yang saya temui di koridor sekolah. Selang beberapa lama bel pun dibunyikan Bu Suci yang bertugas sebagai guru piket pada hari itu. 

"kringggggg!" 

    Semua guru-guru pun bersiap dengan perangkatnya dan amunisinya membawa media pembelajaran masing-masing siap memberikan pelajaran sesuai prinsip kurikulum merdeka yakni membimbing serta mendidik siswa agar menjadi pribadi yang inovatif, kreatif, dan bertanggung jawab dan siap masuk dalam kehidupan masyarakat.

"Ayoo Bapak/Ibu yang memiliki jam mengajar silahkan masuk ke kelas!" ucap guru piket. 
"Siswa -Siswi silahkan masuk ke kelas dan pastikan kelasnya bersih!" lanjutnya. 

Saat itu saya mendapat jadwal di kelas 79 jam pertama hingga waktu istirahat. Sampai di kelas betapa kagetnya ketika melihat jumlah siswa pada saat itu hanya tidak sampai 10 orang. 

"Selamat pagi anak-anak!" Sapa ku, "Loh mana yang lain?" tanya ku lagi sambil memasang ekspresi heran.

"Pada ijin tidak hadir Pak! karena rumah mereka banjir akibat intensitas hujan seharian tadi malam." Jawab Sulaiman.  

"Waduh pada kebanjiran ya." Jawab ku bingung karena harus memulai pelajaran dengan jumlah siswa yang sedikit. 

Itulah kenapa pentingnya memperhatikan aspek lingkungan, pembangunan yang masif baik di sektor properti maupun industri seringkali mengabaikan dampak lingkungan. 

"Itulah kenapa kita harus mengikuti standar tata ruang dalam membangun infrastruktur jangan sampai menghalangi aliran atau menambah beban pada sistem drainase yang sudah ada." siswa menyimak penjelasan dengan seksama, "Infrastruktur drainase jika tidak terpelihara akan membuat kota kita rentan terhadap banjir."

"Benar itu pak!" Ucap Shiva siswa paling pintar di kelas. "Kata Ayah saya kota kita memang tengah gencar membangun infrastruktur modern, contohnya jalan makin lebar, bandara serta pelabuhan." 

"Nah pintar kamu Shiva, apalagi banya investasi yang masuk sehingga banyak realisasi pembangunan yang terjadi, tapi tetap harus memperhatikan dampak lingkungan ya!" sambung ku.

    Meskipun jumlah siswa tidak mencapai 10 orang akibat bencana banjir yang terjadi pembelajaran hari ini tetap harus dilanjutkan. karena sejatinya mengajar dan belajar tidak mengenal waktu dan harus tetap semangat dalam memberi ilmu dan menimba ilmu. 

"Baiklah anak-anak mari kita mulai pelajaran hari ini ya!" 


Selesai.



Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer